Senin, 10 Desember 2012

KEDUDUKAN EVALUASI HASIL BELAJAR DALAM EVALUASI PENDIDIKAN


BAB I
PENDAHULUAN
1.       Latar belakang
Evaluasi merupakan suatu proses sistematis membandingkan atau menggunakan hasil pengukuran dan cara lainnya terhadap norma sehingga melahirkan suatu keputusan.
Untuk dapat memberikan gambaran yang maksimal tentang kegiatan belajar mengajar, perlu dilakukan penilaian yang benar, baik ditinjau dari komponen evaluasi itu sendiri maupun dari prinsip-prinsip evaluasi yang domain. Dalam proses pendidikan disekolah atau dalam proses belajar mengajar evaluasi itu berada pada beberapa posisi, sesuai dengan konsep pengajaran yang dianut.
2.      Rumusan masalah
2.1  Bagaimana kedudukan evaluasi hasil belajar dalam evaluasi pendidikan?
2.2  Apasaja prinsip-prinsip umum evaluasi?

3.       Tujuan
Agar kita dapat mngetahui serta memahami kedudukan serta prinsip dari evaluasi hasil belajar dalam evaluasi pendidikan.


BAB II
PEMBAHASAN


A.     KEDUDUKAN EVALUASI HASIL BELAJAR DALAM EVALUASI PENDIDIKAN
Kedudukan evaluasi dalam belajar dan pembelajaran sungguh sangat penting, dan bahkan dapat dipandang sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan keseluruhan proses belajar dan pembelajaran. Penting karena dengan evaluasi diketahui apakah belajar dan pembelajaran tersebut telah mencapai tujuan ataukah belum. Dengan evaluasi juga akan diketahui faktor-faktor apa saja yang menjadikan penyebab belajar dan pembelajaran tersebut berhasil dan faktor-faktor apa saja yang menjadikan penyebab belajar dan pembelajaran tidak atau belum berhasil. Tidak hanya itu, dengan evaluasi juga diketahui dimanakah letak kegagalan dan kesuksesan belajar dan pembelajaran. Padahal diketahuinya hal tersebut, akan dapat dijadikan sebagai titik tolak dalam mengadakan perbaikan belajar duo pembelajaran.
Evaluasi juga punya kedudukan yang tak terpisahkan dari belajar dan pembelajaran secara keseluruhan, karena strategi belajar dan pembelajaran, proses belajar dan pembelajaran menempatkan evaluasi sebagai salah satu langkahnya. Hampir semua ahli prosedur sistem instruksional menempatkan evaluasi ini sebagai langkah-langkahnya.
Perhatikan pula langkah-langkah pembelajaran yang dikemukakan oleh para ahli berikut, pasti kita akan tahu betapa tidak dapat terpisahkan evaluasi tersebut dengan keseluruhan proses belajar dan pembelajaran.
1.       Mentout Kauffman, langkah-langkah yang harus ditempuh dalam belajar pembelajaran adalah dengan menggunakan model pemecahan masalah sebagai berikut:
1.       Identifikasi masalah.
    1. Menentukan syarat-syarat dan altematif pemecahan masalah
    2. Memilih strategi pemecahan masalah.
    3. Melaksanakan pemecahan msalah.
    4. Menentukan keefektifan hasil
    5. Mengadakan revisi atas keseluruhan langkah a sampai dengan Iangkah c
Jelaslah bahwa langkah c (menentukan keefektifan hasil) pada dasarnya tidak berbeda dengan evaluasi itu sendiri. Dan dari langkah menentukan keefektifan basil tersebut baru dapat dilakukan revisi atas keseluruhan langkah sebelumnya.
2.       Menurut Glaser, proses belajar pembelajaran haruslah menempuh prosedur-prosedur sebagai berikut :
    1. Merumuskan teori pembelajaran (instuksional objectives)
    2. Memutuskan situasi permulaan siswa
    3. Menentukan prosedur pembelajaran.
    4. Penilaian terhadap perfomansi
    5. Umpan balik.
Jelaslah bahwa evaluasi (sebagaimana pada langgkah d) sangat diperlukan dan merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dalam proses belajar pembelajaran. Hal serupa dapat juga dibaca pada prosedur belajar pembelajaran yang dikemukakan para ahli berikut.
3.       Menurut Kemp
    1. topcs and general purposes.
    2. student characteristks
    3. learning objectives
    4. Subject content.
    5. Pre test
    6. Teaching/ leaming activities and resources
    7. Evaluation.
4.       Menumt Gelder
    1. Merumuskan tujuan instruksional.
    2. Analisis situasi.
    3. Menentukan aktivitas guru, aktivitas pembelajar, mata pembelajaran dan alat bantu pembelajaran.
    4. Evaluasi
5.        Menurut model PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem lnstruksional):
1.       Merumuskan tujuan
2.       Mengembangkan alat evaluasi
3.       Merumuskan kegiatan belajar pembelajaran
4.       Mengembangkan program kegiatan
5.       Pelaksanaan kegiatan belajar pembelajaran.
Proses pendidikan merupakan proses membudayakan dan beradap diperlukan transformasi kebudayaan dan peradapan. Sebagai proses transformasi, proses pendidikan meliputi :
a.       Masukan
Masukan dalam proses pendidikan adalah siswa dengan sengaja karaktristik dan keunikannya siswa akan mempermudahkan dalam menentukan rancangan program dan proses pembudayaan dan peradapan siswa yang menjadi masukan.

b.      Trasformasi
Trasformasi dalam proses pendidikan adalah proses untuk membudayakan dan memberadapkan siswa. Lembaga pendidikan merupakan tempat terjadinya transformasi danmerupakan unsur keberhasilan transformasi yang menghasilkan keluaran. Unsure transformasi dalam proses pendidikan meliputi :
·         Pendidikan dan personal lain
·         Isi pendidikan
·         Teknik
·         Sistem evaluasi
·         Sarana pendidikan
·         Sistem administrasic
c.       Keluaran
Keluaran dalam proses pendidikan adalah siswa yang semakin berbudaya dan beradap sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.


d.      Umpan balik
Umpan balik dalam proses pendidikan segala informasi yang berhasil yang diperoleh selama proses pendidikan yang digunakan sebagai ahan pertimbangan untuk perbaikan masukan dan taformasiyang ada dalam proses.
Kedudukan evaluasi dalam proses pendidikan bersifat intergatif, setiap ada proses pendidikan pasti ada evaluasi.

B.      PRINSIP-PRINSIP UMUM EVALUASI

1.       Evaluasi yang baik bersifat komprehensif
Prinsip ini menunjukkan pada betapa pentingnya cakupan yang luas dari alat ukur yang digunakan, sesuai dengan materi pelajaran. Cakupan itu bukan semata-mata dilihat dari luas materi yang di ujikan, tetapi juga domain (aspek) yang diukur. Melalui tes objektif lebih banyak informasi yang dapat diukur, tetapi sangat sedikit sekali yang berkaitan dengan minat, keterampilan maupun sikap. Sedangkan dengan menggunakan tes essay, sedikit informasi yang dikumpulkan, tetapi kemampuan menalar, dan mengemukakan pendapat dapat dijaring dengan baik
Keterampilan yang dikuasai peserta didik perlu pula diketahui, kalau materi pelajaran memang terkait dengan aspek itu. Oleh karena itu evaluasi hasil belajar harus luas cakupannya, baik dilihat dari isi maupun aspek-aspek yang diukur dan dinilai.

2.       Evaluasi hendaklah kontinue
Evaluasi yang baik bukanlah dilakukan pada awal dan akhir suatu kegiatan saja atau sesuatu bersifat sewaktu atau momentum, melainkan hendaklah dilakukan secara terus menerus. Mulai pada saat program pendidikan dirancang seharusnya sudah ada evaluasi, yaitu untuk mengetahui seberapa jauh peserta didik sudah menguasai materi yang akan diberikan. Dengan cara demikian dapat dipilih materi dan strategi mengajar yang tepat, organisasi kelas yang baik, dan waktu yang sesuai, serta sumber belajar yang mendukung kegiatan belajar mengajar. Pada saat kegiatan mulai dilaksanakan, evaluasi proses sudah harus berjalan, sehingga dapat diketahui kesulitan-kesulitan, dan hambatan peserta didik dalam belajar. Demikian juga kesukaran-kesukaran yang dialami guru atau dosen perlu diketahui, sehingga dapat dilakukan penyempurnaan pada kegiatan-kegiatan berikutnya. Evaluasi sumatif dapat dilakukan pada akhir kegiatan untuk mengetahui tingkat pencapaian peserta didik maupun efektifitas pendidikan.
Evaluasi yang dilakukan secara tidak kontinu, kurang dapat merekam semua keadaan dalam proses belajar mengajar, sehingga hasil evaluasi itu belum dapat menggambarkan hasil belajar secara keseluruhan.

3.       Evaluasi yang baik bersifat objektif
Hasil belajar yang terkumpul dengan  menggunakan alat ukur selanjutnya ditafsirkan dengan jelas dan tegas, serta tidak memihak. Artinya, gambaran hasil belajar itu tidak dipengaruhi oleh faktor lain di luar hasil yang dicapai siswa. Hendaknya ada patokan atau norma yang  jelas dengan klasifikasi yang tegas, sehingga apa yang di dapat siswa itu akan menjamin ketepatan gambaran peserta didik yang sebenarnya.

4.       Evaluasi yang baik berpijak pada tujuan yang jelas
Perumusan tujuan yang jelas adalah sangat penting dalam kegiatan mengajar. Tujuan pendidikan merupakan awal dari semua kegiatan belajar dan mengajar, baik secara langsung maupun tidak langsung. Tujuan yang jelas akan membawa dampak positif pada pemilihan metoda dan strategi mengajar. Tujuan yang jelas akan membantu dalam memilih media mengajar. Tujuan yang jelas merupakan dasar dalam merumuskan kisi-kisi ujian dan bentuk ujian yang akan dilakukan.
Tujuan itu hendaklah terjabar dengan baik, jelas dan mudah diukur atau dinilai, sehingga menjadi pegangan dan sangat membantu dalam memilih dan menyusun alat assesment yang tepat.

5.       Evaluasi yang baik menggunakan alat ukur yang ganda dan sahih
Tidak ada alat penilaian tunggal yang dapat menilai semua kemajuan siswa dalam belajar. Untuk  menilai pengetahuan dapat digunakan tes dalam bentuk : betul-salah (true-false) tetapi bentuk ini tidak baik digunakan untuk mengetahui tingkat pemahaman, keterampilan berpikir atau perubahan sikap peserta didik. Untuk  yang terakhir itu, guru atau pendidik hendaklah mencari atau menyusun alat ukur lain sehingga dapat merangkum semua yang dibutuhkan sesuai dengan keadaan peserta didik yang sesungguhnya.



6.       Evaluasi yang baik hendaknya dilakukan oleh suatu tim
Penggunaan asesor lebih dari satu sangat besar artinya dalam penentuan objektifitas hasil assesment. Cara ini dapat mengurangi subjektifitas yang mungkin timbul dibandingkan dengan apabila evaluasi itu dilakukan oleh satu orang saja. Disamping itu, apabila asesor merupakan suatu tim, mereka dapat melakukan dialog sesama mereka dan membicarakan secara mendalam tentang orang yang dinilainya. Dengan demikan diharapkan, apa yang dihasilkan itulah yang sesungguhnya pada diri peserta didik.

7.       Evaluasi bukanlah tujuan, melainkan adalah cara untuk mencapai suatu tujuan.
Banyak “kesalahan” yang mungkin terjadi pada alat evaluasi yang dipakai. Kesalahan pertama akan ada pada waktu menyusun instrument. Apakah instrument itu telah dirakit sedemikian rupa menurut cara yang sebenarnya?. Apakah tujuan yang dirumuskan sudah benar?.
Kesalahan lain terletak pada apakah aspek yang diuji telah mencakup semua aspek materi pelajaran, ataukah hanya aspek-aspek tertentu saja dan tidak mewakili keadaan yang sebenarnya?. Mengingat kelemahan-kelemahan yang mungkin terjadi, baik pada alat ukur maupun aspek yang dinilai, maka hendaklah di pandang bahwa evaluasi itu adalah untuk menyediakan informasi tentang peserta didik yang digunakan sebagai dasar untuk mengambil keputusan.
Gronlund mengemukakan enam prinsip penilaian, yaitu tes hasil belajar hendaknya:
·         Mengukur hasil-hasil belajar yang telah ditentukan dengan jelas dan sesuai dengan  tujuan pembelajaran,
·         Mengukur sampel yang representatif dari hasil belajar dan bahan-bahan yang tercakup dalam pengajaran,
·         Mencakup jenis-jenis pertanyaan/soal yang paling sesuai untuk mengukur hasil belajar yang diinginkan,
·         Direncanakan sedemikian rupa agar hasilnya sesuai dengan yang akan digunakan secara khusus,
·         Dibuat dengan reliabilitas yang sebesar-besarnya dan harus ditafsirkan secara hati-hati, dan
·         Dipakai untuk memperbaiki hasil belajar.
Sejalan dengan pendapat di atas, Nana Sujana mengemukakan bahwa penilaian hasil belajar hendaknya:
·         Dirancang sedemikian rupa sehingga jelas kemampuan yang harus dinilai, materi penilaian, alat penilaian dan iterpretasi hasil penilaian,
·         Menjadi bagian yang integral dari proses belajar mengajar,
·         Agar hasilnya obyektif, penilaian harus menggunakan berbagai alat penilaian dan sifatnya komprehensif,
Menurut Khusnuridlo (2010), prinsip-prinsip evaluasi terdiri dari :
1)      Komprehensif
Evaluasi harus mencakup bidang sasaran yang luas atau menyeluruh, baik aspek personalnya, materialnya, maupun aspek operasionalnya. Evaluasi tidak hanya ditujukan pada salah satu aspek saja. Misalnya aspek personalnya, jangan hanya menilai gurunya saja, tetapi juga murid, karyawan dan kepala sekolahnya. Begitu pula untuk aspek material dan operasionalnya. Evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh.
2)      Komparatif
Prinsip ini menyatakan bahwa dalam mengadakan evaluasi harus dilaksanakan secara bekerjasama dengan semua orang. Sebagai contoh dalam mengevaluasi keberhasilan guru dalam mengajar, harus bekerjasama antara pengawas, kepala sekolah, guru itu sendiri, dan bahkan, dengan pihak murid. Dengan melibatkan semua pihak diharapkan dapat mencapai keobyektifan dalam mengevaluasi.
3)      Kontinyu
Evaluasi hendaknya dilakukan secara terus-menerus selama proses pelaksanaan program. Evaluasi tidak hanya dilakukan terhadap hasil yang telah dicapai, tetapi sejak pembuatan rencana sampai dengan tahap laporan. Hal ini penting dimaksudkan untuk selalu dapat memonitor setiap saat atas keberhasilan yang telah dicapai dalam periode waktu tertentu. Aktivitas yang berhasil diusahakan terjadi peningkatan, sedangkan aktivi-tas yang gagal dicari jalan lain untuk mencapai keberhasilan.
4)      Obyektif
Mengadakan evaluasi harus menilai sesuai dengan kenya¬taan yang ada. Katakanlah yang hijau itu hijau dan yang merah itu merah. Jangan sampai mengatakan yang hijau itu kuning, dan yang kuning itu hijau. Sebagai contoh, apabila seorang guru itu sukses dalam menga¬jar, maka katakanlah bahwa guru ini sukses, dan sebaliknya apabila jika guru itu kurang berhasil dalam mengajar, maka katakanlah bahwa guru itu kurang berhasil. Untuk mencapai keobyektifan dalam evaluasi perlu adanya data dan fakta. Dari data dan fakta inilah dapat mengolah untuk kemudian diambil suatu kesimpulan. Makin lengkap data dan fakta yang dapat dikumpulkan maka makin obyektiflah evaluasi yang dilakukan.
5)      Berdasarkan Kriteria yang Valid
Selain perlu adanya data dan fakta, juga perlu adanya kriteria-kriteria tertentu. Kriteria yang digunakan dalam evaluasi harus konsisten dengan tujuan yang telah dirumuskan. Kriteria ini digunakan agar memiliki standar yang jelas apabila menilai suatu aktivitas supervisi pendidikan. Kekonsistenan kriteria evaluasi dengan tujuan berarti kriteria yang dibuat harus mempertimbangkan hakikat substansi supervisi pendidikan.
6)      Fungsional
Evaluasi memiliki nilai guna baik secara langsung maupun tidak langsung. Kegunaan langsungnya adalah dapatnya hasil evaluasi digunakan untuk perbaikan apa yang dievaluasi, sedangkan kegunaan tidak langsungnya adalah hasil evaluasi itu dimanfaatkan untuk penelitian atau keperluan lainnya.
7)      Diagnostik
Setiap hasil evaluasi harus didokumentasikan. Bahan-bahan dokumentasi hasil evaluasi inilah yang dapat dijadikan dasar penemuan kelemahan-kelemahan atau kekurangan-kekurangan yang kemudian harus diusahakan jalan pemecahannya.

Menurut Arikunto (2005:24-25), prinsip evaluasi merupakan trigulasi yang meliputi tujuan pembelajaran, kegiatan pembelajaran atau KBM, dan evaluasi.
1)      Hubungan anatara tujuan dengan KBM
Kegiatan belajar mengajar yang dirancang dalam bentuk rencana mengajar disusun oleh guru dengan mengacu pada tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian, anak panah yang menunjukkan hubungan anatara keduanay mengarah pada tujuan dengan makana bahwa KBM mengacu pada tujuan, tetapi juga mengarah dari tujuan ke KBM, menunjukkan langkah dari tujuan dilanjutkan pemikirannya ke KBM.
2)      Hubungan tujuan dengan evaluasi
Evaluasi  adalah kegiatan pengumpulan data untuk mengukur sejauh mana tujuan sudah tercapai. Dalam menyusun alat evaluasi perlu mengacu pada tujuan yang sudah dirumuskan
3)      Hubungan anatara KBM dengan evaluasi
KBM dirancang dan disusun dengan mengacu pada tujuan yang telah dirumuskan, alat evaluasi disusun dengan mengacu pada tujuan, mengacu atau disesuaikan dengan KBM yang dilaksanakan.
Menurut Sudijono (2001: 31-33), evaluasi hasil belajar dikatakan terlaksan dengan baik apabila dalam pelaksanaannya senantiasa berpegang pada tiga prinsip dasar yaitu:
1)      Prinsip keseluruhan
Prinsip keseluruhan dikenal dengan istilah prinsip komprehensif. Prinsip komprehensif dikatakan terlaksana dengan baik apabila evaluasi tersebut dilaksanakan secara bulat, utuh atau menyeluruh. Evaluasi hasil belajar harus dapat mencakup berbagai aspek yang dapat menggambarkan perkembangan atau perubahan tingkah laku yang terjadi pada diri peserta didik sebagai makhluk hidup.


2)      Prinsip Kesinambungan
Prinsip kesinambungan dikenal dengan istilah prinsip komunitas. Prinsip komunitas dimaksudkan bahwa hasil belajar yang baik adalah evaluasi hasil belajar yang dilaksanakan secara teratur dan sambung menyambung dari waktu ke waktu. Evaluasi hasil belajar dilaksanakan secara berkesinambungan agar pihak evaluator dapat memperoleh kepastian dan kemantapan dalam menentukan langkah-langkah atau merumuskan kebijaksanaan untuk masa depan serta memperoleh informasi yang dapat memberikan gambaran mengenai kemajuan atau perkembangan peserta didik.
3)      Prinsip obyektivitas
Prinsip objektivitas mengandung makna bahwa evaluasi hasil belajar dapat dinyatakan sebagai evaluasi yang baik apabila dapat terlepas dari factor-faktor yang sifatnya subyektif.
Menurut Sukardi (2008: 4-5) dalam bidang pendidikan, beberapa prinsip evaluasi dapat dilihat sebagai berikut:
1)      Evaluasi harus masih dalam kisi-kisi kerja tujuan yang telah ditetapkan
2)      Evaluasi hendaknya dilaksanakan secara komprehensif
3)      Evaluasi diselenggarakan dalam proses koopperatif antara guru dan peserta didik
4)      Evaluasi dilaksanakan dalam proses continue
5)      Evaluasi harus peduli dan mempertimbangkan nilai-nilai yang berlaku
Sedangkan menurut Slameto (dalam Sukardi, 2008: 5) evaluasi harus minimal mempunyai tujuh prinsip berikut: 1) terpadu, 2) Menganut cara belajar siswa aktif, 3) kontinuitas, 4) koherensi dengan tujuan, 5) menyeluruh, 6) membedakan, dan 7)pedagogis.

Terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam melaksanakan evaluasi, agar mendapat informasi yang akurat, diantaranya:
1.       Dirancang secara jelas abilitas yang harus dinilai, materi penilaian, alat penilaian, dan interpretasi hasil penilaian. à patokan : Kurikulum/silabi.
2.       Penilaian hasil belajar menjadi bagian integral dalam proses belajar mengajar.
3.       Agar hasil penilaian obyektif, gunakan berbagai alat penilaian dan sifatnya komprehensif.
4.       Hasilnya hendaknya diikuti tindak lanjut.

Prinsip lain yang dikemukakan oleh Ngalim Purwanto adalah:
1.       Penilaian hendaknya didasarkan pada hasil pengukuran yang komprehensif.
2.       Harus dibedakan antara penskoran (scoring) dengan penilaian (grading)
3.       Hendaknya disadari betul tujuan penggunaan pendekatan penilaian (PAP dan PAN)
4.       Penilaian hendaknya merupakan bagian integral dalam proses belajar mengajar.
5.       Penilaian harus bersifat komparabel.
6.       Sistem penilaian yang digunakan hendaknya jelas bagi siswa dan guru.











REFERENSI
Prof. DR. A. Muri Yusuf, M.Pd. 1998. Dasar-dasar dan Teknik Evaluasi Pendidikan. FIP IKIP: Padang.

Prof. Dr. Suharsimi Arikunto. 2005. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (edisi Revisi). Jakarta ; Bumi aksara.

Ari Juniar Susanto.2011. Makalah Kedudukan Evaluasi dalam Proses Pendidikan. http://juniarari.blogspot.com. Jum’at, 18 november 2011.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar